Mencari makna dari konsep kerelawanan ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Apalagi jika harus menyajikan konsep itu agar dapat dengan mudah ditangkap dan dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat
secara luas. Selama ini kita cenderung mengartikan konsep kerelawanan secara umum, seolah-olah kita mempunyai persepsi yang sama tentang kerelawanan, padahal konsep kerelawanan memiliki beragam interpretasi.
Kerelawanan secara umum dapat dikemukakan sebagai perwujudan seseorang untuk menyumbangkan; pikiran, tenaga, dan harta dalam rangka membantu sesame untuk memecahkan masalah, dengan tanpa meminta imbalan, hanya satu harapannya adalah pahala dari Tuhan. Diakui konsep ini masih terlalu umum dan hanya berlandaskan pengalaman, belum diuji secara ilmiah.
Konsep kerelawanan juga dapat disejajarkan dengan konsep jihad (dalam perspektif Islam). Jihad dalam hal ini diartikan mengerahkan segala; dana, daya, dan upaya, berjuang keras dan cerdas, optimal dan proporsional untuk melawan segala sesuatu yang keliru dan tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Kita juga mendapatkan konsep yang hampir mirip, namun belum familier di masyarakat, yaitu konsep jihad social. Jihad social adalahj sebagai daya upaya bersama sekuat tenaga, secerdas, dan searif daya nalar, dan
semampu dana untuk berjuang mengatasi dan memberi solusi yang tepat terhadap berbagai masalah social, ekonomi, budaya, pendidikan, hokum, dan sebagainya yang melanda masyarakat kita.
Mengapa kita harus memupuk sikap kerelawanan ? karena berbagai persoalan/permasalahan kesejahteraan social tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Semua permasalahan tersebut saling terkait, ibarat :lingkaran setan” yang sangat sulit dari mana dan pada bagian mana “mata rantai persoalan” itu harus diputus. Dimasa yang serba mengglobal ini, kita tidak lagi dapat melakukan suatu program.lebih-lebih penanganan suatu masalah, secara sendirian. Kita perlu bermitra, bekerja sama, menjalin dan mengambangkan
sinergi; daya, dana , pikiran, dan kebersamanan dalam mengatasi berbagai masalah dan persoalan. Karena itulah jiwa kerelawanan sangat diperlukan.
Bagaimana caranya untuk meningkatkan jiwa kerelawanan ? dalam upaya membentuk dan membangun jiwa kerelawanan perlu disampaikan beberapa hal yang mungkin dapat menjadi solusi, diantaranya adalah:
1. Kembali ke fitrah, yang berarti kita harus menenmukan kembali jati diri kita. Yaitu dengan mengendalikan bahwa hawa nafsu kita sesuai ketentuan agama yang kita peluk dan menggunakan pemikiran akal sehat. Langkah-langkahnya adalah:
a. Memperkuat landasan iman.
b. Menjalankan agama secara benar
c. Sungguh-sungguh dan konsisten
d. membentuk watak kita
2. Menempa diri dengan lima sikap dasar, yang merupakan tuntutan dasar pada pemikiran, sikap, dan perilaku kita yaitu: jujur, terbuka, berani mengambil resiko dan bertanggung jawab, komitmen, berbagi
dan sharing.
3. Kita harus membangun sikap dan perilaku kita, untuk itu perlu diingat bahwa factor dominant keberhasilan adalah bukan kecerdasan intelektual (IQ) namun kecerdasan emosional (EQ). Namun untuk dapat menampilkan suara hati nurani, maka kita harus tambah dengan spiritual quotion (kecerdasan spiritual). Selanjutnya kita akan mencerminkan diri kita yang “tulus” dengan mampu mengungkapkan tata nilai dari dalam hati sanubari, memberi warna pada sikap dan perilaku.
secara luas. Selama ini kita cenderung mengartikan konsep kerelawanan secara umum, seolah-olah kita mempunyai persepsi yang sama tentang kerelawanan, padahal konsep kerelawanan memiliki beragam interpretasi.
Kerelawanan secara umum dapat dikemukakan sebagai perwujudan seseorang untuk menyumbangkan; pikiran, tenaga, dan harta dalam rangka membantu sesame untuk memecahkan masalah, dengan tanpa meminta imbalan, hanya satu harapannya adalah pahala dari Tuhan. Diakui konsep ini masih terlalu umum dan hanya berlandaskan pengalaman, belum diuji secara ilmiah.
Konsep kerelawanan juga dapat disejajarkan dengan konsep jihad (dalam perspektif Islam). Jihad dalam hal ini diartikan mengerahkan segala; dana, daya, dan upaya, berjuang keras dan cerdas, optimal dan proporsional untuk melawan segala sesuatu yang keliru dan tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Kita juga mendapatkan konsep yang hampir mirip, namun belum familier di masyarakat, yaitu konsep jihad social. Jihad social adalahj sebagai daya upaya bersama sekuat tenaga, secerdas, dan searif daya nalar, dan
semampu dana untuk berjuang mengatasi dan memberi solusi yang tepat terhadap berbagai masalah social, ekonomi, budaya, pendidikan, hokum, dan sebagainya yang melanda masyarakat kita.
Mengapa kita harus memupuk sikap kerelawanan ? karena berbagai persoalan/permasalahan kesejahteraan social tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Semua permasalahan tersebut saling terkait, ibarat :lingkaran setan” yang sangat sulit dari mana dan pada bagian mana “mata rantai persoalan” itu harus diputus. Dimasa yang serba mengglobal ini, kita tidak lagi dapat melakukan suatu program.lebih-lebih penanganan suatu masalah, secara sendirian. Kita perlu bermitra, bekerja sama, menjalin dan mengambangkan
sinergi; daya, dana , pikiran, dan kebersamanan dalam mengatasi berbagai masalah dan persoalan. Karena itulah jiwa kerelawanan sangat diperlukan.
Bagaimana caranya untuk meningkatkan jiwa kerelawanan ? dalam upaya membentuk dan membangun jiwa kerelawanan perlu disampaikan beberapa hal yang mungkin dapat menjadi solusi, diantaranya adalah:
1. Kembali ke fitrah, yang berarti kita harus menenmukan kembali jati diri kita. Yaitu dengan mengendalikan bahwa hawa nafsu kita sesuai ketentuan agama yang kita peluk dan menggunakan pemikiran akal sehat. Langkah-langkahnya adalah:
a. Memperkuat landasan iman.
b. Menjalankan agama secara benar
c. Sungguh-sungguh dan konsisten
d. membentuk watak kita
2. Menempa diri dengan lima sikap dasar, yang merupakan tuntutan dasar pada pemikiran, sikap, dan perilaku kita yaitu: jujur, terbuka, berani mengambil resiko dan bertanggung jawab, komitmen, berbagi
dan sharing.
3. Kita harus membangun sikap dan perilaku kita, untuk itu perlu diingat bahwa factor dominant keberhasilan adalah bukan kecerdasan intelektual (IQ) namun kecerdasan emosional (EQ). Namun untuk dapat menampilkan suara hati nurani, maka kita harus tambah dengan spiritual quotion (kecerdasan spiritual). Selanjutnya kita akan mencerminkan diri kita yang “tulus” dengan mampu mengungkapkan tata nilai dari dalam hati sanubari, memberi warna pada sikap dan perilaku.
Sumber: http://trimiyati.web.ugm.ac.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar