Minggu, 24 Juni 2012

KERELAWANAN DALAM ORGANISASI SOSIAL

Dalam hal ini kita lebih memfokus kepada pembahsaan sukarelawan dalam konteks sumber daya manusia orsos yang termasuk tenaga kerja. Tantangan dan peluang oros dalam menghadapi permasalahan kesejahteraan social yang semakin kompleks, diperlukan sumber daya manusia yang professional. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian diantaranya adalah sikap; keterbukaan, kebersamaan, dan kemitraan.
1. Sikap keterbukaan, adalah sikap mental yang berkembang secara bertahap, tidak datang tiba-tiba. Sikap keterbukaan adalah sikap membuka diri ini berarti adanya kesediaan untuk mendengarkan orang lain dan pendapat orang lain.
2. Sikap kebersamaan, didasarkan atas keyakinan bahwa pemecahan masalah secara bersama selalu lebih baik dari pada sipecahkan sendiri. Dengan kebersamaan kita mengetahui kelemahan dan kelebihan kita, dan orang lain. Untuk itu kita perlu memupuk untuk bersikap bersama dengan yang lain untuk saling membantu.
3. Sikap kemitraan, kita harus memandang orang lain sebagai mitra, sebagai sahabat. Perbedaan pendapat yang datang dari mitra diterima sebagai memperluas wawasan dan oleh karenya perbedaan pendapat adalah hikmah.
Dalam organisasi social kita mengenal tenaga kerja yang digaji (karyawan) dan sukarelawan. Namun kita tidak hendak mempermasalahkan dan membedakan keduanya secara tegas, karena kedua komponen tersebut sangat diperlukan bagi keberlangsungan orsos. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah memberdayakan sumber daya manusia / tenaga kerja orsos ? Bagaimana mengelola tenaga kerja termasuk didalamnya sukarelawan ? Secara defakto keberadaan sukarelawan sangat diperlukan orsos, untuk itu perlu ada perhatian khusus terhadapnya. Beberapa catatan yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:
1. Sukarelawan juga perlu dimotivasi terutama dalam hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
2. Sukarelawan dapat dibayar, dilatih, dan dikembangkan dengan cara yang sama seperti tenaga kerja yang dibayar.
3. Jika orsos mencari tenaga sukarelawan, maka criteria yang diutamakan adalah memiliki kemampuan dan kemauan tinggi dalam tugas orsos.
4. Sukarelawan ingin tahu ukuran keberhasilan orsos, seperti halnya tenaga kerja yang dibayar dan mereka harus tetap bertanggungjawab untuk tampil sesuai ukuran tersebut.
5. Sukarelawan menginginkan dan memerlukan umpan balik terhadap penampilannya, sama seperti tenaga kerja yang dibayar.
6. Sukarelawan merupakan calon untuk jabatan baru dan jabatan yang lebih tinggi sama seperti tenaga kerja yang dibayar.
7. Sukarelawan tidak mendapat bayaran dan upah, merupakan prioritas terendah dalam daftar kebutuhan mereka atau mereka penganggur tidak tetap dan mengharapkan memperoleh beberapa pengalaman dan latihan dengan bekerja sukarela pada organisasi social.
8. Karena sukarelawan tidak dibayar, orsos dapat memberi mereka lebih banyak latihan disbanding tenaga kerja lain yang dibayar.
9. Kadang-kadang karena mereka mengorbankan waktunya, sukarelawan merasa sebagai dermawan yang meberikan sumbangsih bagi organisasi. Jika perasaan itu berlebihan, dapat berkembang menjadi “rasa kepahlawanan” atau menjadi orang yang berkorban luar biasa bagi orsos.
10. Dll


Tidak ada komentar:

Posting Komentar